BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Psikologi modern tampaknya memberi porsi khusus bagi
perilaku keagamaan, walaupun pendekatan psikologi digunakan terbatas pada
pengalaman empiris. Psikologi agama merupakan salah satu bukti adanya perhatian
khusus para ahli psikologi terhadap peran agama dalam kehidupan kejiwaan
manusia.
Secara
psikologis, agama adalah ilusi manusia. Manusia lari pada agama karena rasa
ketakberdayaannya menghadi bencana. Dengan demikian, segala bentuk perilaku
keagamaan merupakan ciptaan manusia yang timbul dari dorongan agar dirinya
terhindar dari bahaya dan dapat memberikan rasa aman. Untuk keperluan itu,
manusia menciptakan tuhan dalam pikirannya.
Nilai-nilai
keagamaan dalam masyarakat tipe ini menempatkan focus pertama atau utama pada
pengintegrasian tingkah laku seseorang dan penbentukan citrs pribadinya.
Maka dari
itu, agama suatu keharusan bagi manusia untuk menganutnya bagi setiap
masing-masing penganut. Manusia yang menganut tersebut akan psikis yang tenang,
nyaman dalam dirinya pada saat dia memiliki suatu permasalah dalam
kehidupannya.
B.
Rumusan
masalah
1.
Apa
saja sifat – sifat yang wajib bagi para utusan ?
2.
Motivasi
dalam beragama ?
C.
Tujuan
masalah
1.
Mengetahui
sifat – sifat yang wajib bagi para utusan
2.
Mengetahui
motivasi dalam beragama
PEMBAHASAN
A. Sifat
– sifat wajib bagi para utusan
Sifat – sifat yang wajib bagi para utusan Allah SWT.
Maksudnya adalah sifat – sifat yang secara akal
harus ada dan dimiliki oleh para
utusan. Adapun sifat – sifat tersebut adalah :
1.
Siddiq
( jujur )
Yang di maksud
sifat siddig bagi para utusan adalah setiap utusan itu benar dalam pengakuannya
menjadi rasul, dan semua hokum yang disampaikan berasal dari Allah SWT.Dalil
yang menunjukkan bahwa para nabi dan rasul wajib bersifat jujur adalah firman
Allah SWT.
Surat al ahzab:
22 “ dan benarlah Allah dan Rasul – NYA.”
2.
Amanah
( dapat di percaya )
Yang dimaksud
dengan sifat amanah bagi para utusan adalah setiap utusan itu terpelihara dari
semua dosa dhahir dan bathin. Dalil yang menunjukkan bahwa para nabi dan rasul
wajb bersifat amanah adalah firman Allah SWT.
Surat ad-dukhaan
: 18 “ sesungguhnya aku adalah utusan (Allah) yang dipercaya kepadamu”
3.
Tabligh
( menyampaikan tugas )
Yang dimaksud
dengan sifat tabligh bagi para utusan itu menyampaikan semua hal yang telah
diperintahkan kepada mereka untuk disampaikan pada umat. Dalil yang menunjukkan
bahwa para nabi dan rasul wajib bersifat tabligh dalam firman Allah SWT.
Surat
al-maidah : 67 “ hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu daru
tuhanmu. Dan jika kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu
tidak menyampaikan amanatnya.
4.
Fathanah
( cerdas )
Sifat fathanah
bagi para utusan adalah setiap utusan itu cerdas . mereka diperselisihkan dan
mampu mematahkan tuduhan – tuduhan mereka yang berselisih. Dalil yang
menunjukkan bahwa mereka wajib bersifat cedas adalah seandainya mererka tidak
cerdas, tentunya mereka tidak akan mampu memberikan argument untuk membantah
lawan. Dan hal iu mustahil terjadi, karena al quran telah menjelaskan di
beberapa tampat bagaimana para rasul memberikan argument kuat yang menundukkan
lawan. Firman Allah SWT.
Surat
al-an’aam : 83 “ dan itulah hujjah kami yang kami berikan kepada Ibrahim untuk
menghadapi kaumnya. Kam tinggalkan siapa yang kami kehendaki beberapa derajat.
Sesungguhmya tuhanmu maha bijaksana lagi maha mengetahui”
B. Motivasi
dalam beragama
Motivasi
adalah istilah yang lebih umum digunakan untuk mengantikan tema “motif-motif”
yang berarti gerakan atau sesuatu yang bergerak sehingga kata motivasi ini erat
hubungannya dengan gerak, yaitu gerakan yang dilakukan oleh manusia. Motif yang didororng keyakinan agama dinilai memiliki
kekuatan yang mengagumkan dan sulit ditandingi oleh keyakinan nonagama, baik
doktrin maupun 2 unsur yang bersifat prontan.
1.
Agama
adalah sebagai sarana untuk mengatasi frustasi
Psikologi
mengobservasi bahwa keadaan frustasi dapat menimbulkan perilaku agama. Dengan
jalan itu ia berusaha mengatasi frustasinya.
2.
Fungsi
agama dalam kehidupan
Menurut gambaran
Elizabeth K.Nottingham, agama adalah gejala yang begitu sering terdapat di mana
dan agama berkaitan dengan usaha manusia untuk mengukur dalamnya makna dari
keberadaan diri sendiri dan keberadan alam semesta. Meskipun perhatian tuju
kepada suatu dunia tidak dapat di lihat ( akhirat ), namun agama melibatkan
dirinya dalam masalah-masalah kehidupan kehari-hari di dunia baik kehidupan
individu maupun kehidupan social
a.
Agama
dalam kehidupan individu berfungsi sebagai suatu system ternilai yang memuat
norma-norma tertentu. Secara, umum norma tersebut menjadi kerang acuan dalam
bersikap ( jujur, amanah, dll ) dan bertingkah laku agar sejalan dengan
keyakinan agama yang di anut.
Menurut Mc Guire ( 1981:24), diri manusia mamiliki bentuk system nilai
tertentu. System nilai ini merupakan sesuatu yang diangap bermakna bagi dirinya
( jujur, dapat dipercaya, menyampaikan tugas, cerdas ). System ini dibentuk
melalui belajar dan proses sosialisasi perangkat system ini di pangaruhi oleh
keluarga, teman, institusi pendidikan, dan masyarakat luas. Dalam realitasnya,
nilai memiliki pengaruh dalam mengatur pola tingkah laku, pola berfikir, dan
pola bersikap ( kaswardi, 1993:20 )
b.
Agama
dalam kehidupan masyarakat adalah gambung dari kelompok individu yang terbentuk
tatanan social tertentu. Dalam peraktinya, fungsi agama dalam masyarakat
sebagai berikut:Edukatif Para penganut agama berpendapat
bahwa ajaran agama yang mereka anut memberikan ajaran-ajaran yang harus mereka
petuhi. Ajaran agama sacara yuridis berfungsi untuk menyuruh dan melarang.
Keduanya unsure suruhan dan larang ini mempuyai latar belakang mengarah kan
bimbingan agar pribadi penganut menjadi baik dan terbiasa dengan yang baik
menurut ajaran agama masing-masing.
c.
Agama
dalam pembangunan adalah agama yang menjadi anutan seseorang atau masyarakat
jika diyakini dan dihayati secara mendalam mampu memberikan suatu tatanan nilai
moral dalam sikap seperti kita harus
jujur kepada orang lain.
Selanjutnya, nilai moral tersebut akan mamberikan garis-garis pedoman
tingkah laku seseorang dalam bertidak sesuai dengan ajaran agamanya
C. Perilaku
Dalam Beragama
Agama
dipeluk dan dihayati oleh manusia, praktek dan penghayatan agama tersebut
diistilahkan sebagai keberagamaan (religiusitas). Keberagamaannya, manusia
menemukan dimensi terdalam dirinya yang menyentuh emosi dan jiwa. Oleh karena
itu, keberagamaan yang baik akan membawa tiap individu memiliki jiwa yang sehat
dan membentuk kepribadian yang kokoh dan seimbang.
Konsep
keberagamaan Glock & Stark mencoba melihat keberagamaan seseorang dengan
memperhatikan semua dimensi. Untuk memahami keberagamaan umat Islam, diperlukan
suatu konsep yang mampu memberikan penjelasan tentang beragam dimensi dalam
Islam. Keberagamaan dalam Islam tidak hanya diwujudkan dalam bentuk ritual
ibadah saja namun juga aktifitas lainnya. Sebagai sistem yang menyeluruh, Islam
mendorong pemeluknya untuk beragama secara menyeluruh pula.
Dimensi-dimensi
keberagamaan dalam Islam terdiri dari lima dimensi, yaitu: dimensi Akidah (iman
atau ideology), dimensi ibadah (ritual), dimensi amal (pengamalan), dimensi
ihsan (penghayatan), dan dimensi ilmu pengetahuan.
1.Dimensi
Akidah (ideology)
Dimensi ini mengungkap masalah
keyakinan manusia terhadap rukun iman, kebenaran agama dan masalah-masalah gaib
yang diajarkan agama. Seorang muslim yang religius memiliki ciri utama yang
melekat berupa akidah yang kuat. Inti dimensi ini adalah tauhid yaitu
peng-Esa-an Allah sebagai Yang Maha Esa.
2.Dimensi
ibadah (ritual)
Dimensi
ini dapat diketahui dari sejauhmana kepatuhan seseorang dalam melaksanakan
ibadah. Dimensi ini berkaitan dengan frekuensi, intensitas pelaksanaan ibadah.
3.Dimensi
amal (pengamalan)
Dimensi ini berkaitan dengan kegiatan
seseorang dalam merealisasikan ajaran-ajaran agamanya dalam kehidupan yang
diketahui dan perilaku yang positif dan yang konstruktif kepada orang lain yang
dimotivasi oleh ajaran agam. Dimensi ini menyangkut hubungan antar manusia dan
hubngan manusia dengan lingkungan alamnya. Dimensi ini dapat dimanifestasikan
dengan berperilaku ramah dan baik terhadap orang lain, menolong, bertanggung
jawab dan lain sebagainya.
4.Dimensi
ihsan (penghayatan)
Dimensi ini berkaitan dengan
seberapa jauh seseorang merasa dekat dengan Allah SWT dalam kehidupannya.
Dimensi ini mencakup pengalaman dan perasaan tentang kehadiran Allah SWT dalam
kehidupan, ketenangan hidup, merasa khusyuk dalam ibadah, perasaan syukur atas
karunia dan sebagainya.
5.Dimensi
ilmu pengetahuan
Dimensi ini berkaitan dengan
pengetahuan dan pemahaman seseorang terhadap ajaran-ajaran agamanya mengenai
dasar-dasar keyakinan, ritual-ritual, serta tradisi-tradisiya. Dan menjadikan
AlQur’an merupakan pedoman hidup religius sebagai sumber ilmu pengetahuan.
Dari pembahasan di atas, yang dimaksud
dengan keberagamaan adalah perilaku seseorang yang didasarkan pada keyakinan,
pengetahuan, ajaran-ajaran, aturan-aturan dan norma-norma yang berlaku dan
sesuai dengan agama yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Sekolah adalah sebuah institusi yang awalnya digagas oleh masyarakat
sebagai sarana untuk mendidik generasi muda dalam rangka mempersiapkan mereka
untuk menghadapi tantangan hidup. Sekolah mempunyai tanggung jawab besar
terhadap anak yang diamahkan orang tua kepadanya. Karena amanah yang diemban
itu besar maka muncullah peraturan-peraturan yang orang tua harus terlibat di
dalamnya, seperti: belajar dengan rajin, tertib sholat lima waktu, terbiasa
melafadzkan doadoa, membaca Al-Qur’an, lulus dengan nilai akhir yang memuaskan.
Dengan menciptakan suasana religius (keagamaan) di sekolah proses
sosialisasi yang dilakukan peserta didik di sekolah akan dapat mewujudkan
manusia yang menghayati dan mengamalkan agamanya, sehingga kelak apabila mereka
terjun dalam masyarakat akan dapat mewujudkannya. Jadi sekolah adalah pintu
menuju hidup di masyarakat. Menurut Abdul Latief, internalisasi nilai lebih
dominan dilakukan oleh pendidik di sekolah daripada pendidik di rumah (orang
tua).
Dengan demikian sekolah dapat menjadi
pusat pembinaan keagamaan bagi siswa dan menjadikan pendidikan moral di sekolah
sebagai benteng tangguh dalam membekali siswa dengan nilai-nilai moral agama.
Beberapa program kegiatan yang dapat dilakukan sekolah bagi pengembangan
perilaku keberagamaan siswa antara lain:
1)
Melaksanakan kebiasaan bersikap dan berperilaku sesuai dengan tuntutan yang
dicontohkan Rasulullah SAW, seperti bersikap jujur dalam hal apapun, rendah
hati, menyampaikan amanah dan sebagainya.
2)
Melaksanakan sholat dhuha dan sholat dhuhur berjamaah untuk meningkatkan
disiplin ibadah dan memperdalam rasa kebersamaan dan Pendidikan Berbasis Nilai
Kemasyarakatan, persaudaraan antar sesame muslim.
3)
Melaksanakan pesantren ramadhan dan pesantren kilat untuk memberikan tambahan
pengetahuan dan pemahaman tentang nilai dan norma islam yang dilaksanakan pada
bulan ramadhan dan liburan panjang. Program ini akan mencapai keberhasilan
apabila disiapkan secara matang dengan mendayagunakan samua sumber daya yang
tersedia di sekolah dan lingkungan sekitar.
5) Melaksanakan peringatan hari-hari besar
Islam untuk meningkatkan dakwah dan wawasan siswa tentang sejarah, nilai dan
norma agama Islam yang berkembang di masa lalu, masa kini dan masa yang akan
dating. Kegiatan ini sebaiknya dilakukan dengan mengadakan kerja sama dengan
lembaga-lembaga Islam yang berada di sekitar sekolah, seperti masjid, pondok
pesantren, pusat-pusat studi Islam dan semacamnya.
BAB II
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Motivasi
adalah istilah yang lebih umum digunakan untuk mengantikan tema “motif-motif”
yang berarti gerakan atau sesuatu yang bergerak sehingga kata motivasi ini erat
hubungannya dengan gerak, yaitu gerakan yang dilakukan oleh manusia. Motif yang didororng keyakinan agama dinilai memiliki
kekuatan yang mengagumkan dan sulit ditandingi oleh keyakinan nonagama, baik
doktrin maupun 2 unsure yang bersifat prontan.
1.
Agama
adalah sebagai sarana untuk mengatasi frustasi
2.
Fungsi
agama dalam kehidupan
Konsep
keberagamaan Glock & Stark mencoba melihat keberagamaan seseorang dengan
memperhatikan semua dimensi. Untuk memahami keberagamaan umat Islam, diperlukan
suatu konsep yang mampu memberikan penjelasan tentang beragam dimensi dalam
Islam. Keberagamaan dalam Islam tidak hanya diwujudkan dalam bentuk ritual
ibadah saja namun juga aktifitas lainnya. Sebagai sistem yang menyeluruh, Islam
mendorong pemeluknya untuk beragama secara menyeluruh pula.
1.
Dimensi Akidah (ideology)
2.
Dimensi ibadah (ritual)
3.
Dimensi amal (pengamalan)
4. Dimensi ihsan (penghayatan)
5.
Dimensi ilmu pengetahuan
B.
Kritik
dan Saran
Menyadari dengan ketidak sempurnaan penulis dalam
merangkai setiap kata dalam makalah ini menjadikan sebuah kritik dan saran dari
pembaca sebagai bumbu pelengkap dalam menghidangkan kesempurnaan yang bisa di
rasakan bersama.
DAFTAR
PUSTAKA
Syamsul Arifin, Bambang, Sikologi Agama, Pustaka Setia,
Bandung, 2015
Ihya’ Ulumuddin, Muham11232mad, Penjelasan Nadham
‘Aqidatul ‘Awam, Hai’ah Ash-Shofwah Al-Malikiyyah, Surabaya, 2018
Vergote, Antoon, Pengalaman Dan Motivasi Beragama,
Kanisisus, Yogyakarta, 1994
Santri Ma’had Aly Situbondo IX, Syarah Aqoid Saeket,
Tanwirul Afkar, Sukorejo, 2018
Jurnal psikologi agama
No comments:
Post a Comment