Wednesday, July 4, 2018


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Psikologi modern tampaknya memberi porsi khusus bagi perilaku keagamaan, walaupun pendekatan psikologi digunakan terbatas pada pengalaman empiris. Psikologi agama merupakan salah satu bukti adanya perhatian khusus para ahli psikologi terhadap peran agama dalam kehidupan kejiwaan manusia.
Secara psikologis, agama adalah ilusi manusia. Manusia lari pada agama karena rasa ketakberdayaannya menghadi bencana. Dengan demikian, segala bentuk perilaku keagamaan merupakan ciptaan manusia yang timbul dari dorongan agar dirinya terhindar dari bahaya dan dapat memberikan rasa aman. Untuk keperluan itu, manusia menciptakan tuhan dalam pikirannya.
Nilai-nilai keagamaan dalam masyarakat tipe ini menempatkan focus pertama atau utama pada pengintegrasian tingkah laku seseorang dan penbentukan citrs pribadinya.
Maka dari itu, agama suatu keharusan bagi manusia untuk menganutnya bagi setiap masing-masing penganut. Manusia yang menganut tersebut akan psikis yang tenang, nyaman dalam dirinya pada saat dia memiliki suatu permasalah dalam kehidupannya.
B.     Rumusan masalah
1.      Apa saja sifat – sifat yang wajib bagi para utusan ?
2.      Motivasi dalam beragama ?
C.     Tujuan masalah
1.      Mengetahui sifat – sifat yang wajib bagi para utusan
2.      Mengetahui motivasi dalam beragama
 BAB I1

PEMBAHASAN
A.    Sifat – sifat wajib bagi para utusan
Sifat – sifat yang wajib bagi para utusan Allah SWT. Maksudnya adalah sifat – sifat yang secara akal  harus  ada dan dimiliki oleh para utusan. Adapun sifat – sifat tersebut adalah :
1.      Siddiq ( jujur )
Yang di maksud sifat siddig bagi para utusan adalah setiap utusan itu benar dalam pengakuannya menjadi rasul, dan semua hokum yang disampaikan berasal dari Allah SWT.Dalil yang menunjukkan bahwa para nabi dan rasul wajib bersifat jujur adalah firman Allah SWT.
Surat al ahzab: 22 “ dan benarlah Allah dan Rasul – NYA.”
2.      Amanah ( dapat di percaya )
Yang dimaksud dengan sifat amanah bagi para utusan adalah setiap utusan itu terpelihara dari semua dosa dhahir dan bathin. Dalil yang menunjukkan bahwa para nabi dan rasul wajb bersifat amanah adalah firman Allah SWT.
Surat ad-dukhaan : 18 “ sesungguhnya aku adalah utusan (Allah) yang dipercaya kepadamu”
3.      Tabligh ( menyampaikan tugas )
Yang dimaksud dengan sifat tabligh bagi para utusan itu menyampaikan semua hal yang telah diperintahkan kepada mereka untuk disampaikan pada umat. Dalil yang menunjukkan bahwa para nabi dan rasul wajib bersifat tabligh dalam firman Allah SWT.
            Surat al-maidah : 67 “ hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu daru tuhanmu. Dan jika kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanatnya.
4.      Fathanah ( cerdas )
Sifat fathanah bagi para utusan adalah setiap utusan itu cerdas . mereka diperselisihkan dan mampu mematahkan tuduhan – tuduhan mereka yang berselisih. Dalil yang menunjukkan bahwa mereka wajib bersifat cedas adalah seandainya mererka tidak cerdas, tentunya mereka tidak akan mampu memberikan argument untuk membantah lawan. Dan hal iu mustahil terjadi, karena al quran telah menjelaskan di beberapa tampat bagaimana para rasul memberikan argument kuat yang menundukkan lawan. Firman Allah SWT.
            Surat al-an’aam : 83 “ dan itulah hujjah kami yang kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kam tinggalkan siapa yang kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhmya tuhanmu maha bijaksana lagi maha mengetahui”

B.     Motivasi dalam beragama
Motivasi adalah istilah yang lebih umum digunakan untuk mengantikan tema “motif-motif” yang berarti gerakan atau sesuatu yang bergerak sehingga kata motivasi ini erat hubungannya dengan gerak, yaitu gerakan yang dilakukan oleh manusia. Motif yang didororng keyakinan agama dinilai memiliki kekuatan yang mengagumkan dan sulit ditandingi oleh keyakinan nonagama, baik doktrin maupun 2 unsur yang bersifat prontan.
1.      Agama adalah sebagai sarana untuk mengatasi frustasi
Psikologi mengobservasi bahwa keadaan frustasi dapat menimbulkan perilaku agama. Dengan jalan itu ia berusaha mengatasi frustasinya.
2.      Fungsi agama dalam kehidupan
Menurut gambaran Elizabeth K.Nottingham, agama adalah gejala yang begitu sering terdapat di mana dan agama berkaitan dengan usaha manusia untuk mengukur dalamnya makna dari keberadaan diri sendiri dan keberadan alam semesta. Meskipun perhatian tuju kepada suatu dunia tidak dapat di lihat ( akhirat ), namun agama melibatkan dirinya dalam masalah-masalah kehidupan kehari-hari di dunia baik kehidupan individu maupun kehidupan social
a.       Agama dalam kehidupan individu berfungsi sebagai suatu system ternilai yang memuat norma-norma tertentu. Secara, umum norma tersebut menjadi kerang acuan dalam bersikap ( jujur, amanah, dll ) dan bertingkah laku agar sejalan dengan keyakinan agama yang di anut.
Menurut Mc Guire ( 1981:24), diri manusia mamiliki bentuk system nilai tertentu. System nilai ini merupakan sesuatu yang diangap bermakna bagi dirinya ( jujur, dapat dipercaya, menyampaikan tugas, cerdas ). System ini dibentuk melalui belajar dan proses sosialisasi perangkat system ini di pangaruhi oleh keluarga, teman, institusi pendidikan, dan masyarakat luas. Dalam realitasnya, nilai memiliki pengaruh dalam mengatur pola tingkah laku, pola berfikir, dan pola bersikap ( kaswardi, 1993:20 )
b.      Agama dalam kehidupan masyarakat adalah gambung dari kelompok individu yang terbentuk tatanan social tertentu. Dalam peraktinya, fungsi agama dalam masyarakat sebagai berikut:Edukatif Para penganut agama berpendapat bahwa ajaran agama yang mereka anut memberikan ajaran-ajaran yang harus mereka petuhi. Ajaran agama sacara yuridis berfungsi untuk menyuruh dan melarang. Keduanya  unsure suruhan dan larang ini mempuyai latar belakang mengarah kan bimbingan agar pribadi penganut menjadi baik dan terbiasa dengan yang baik menurut ajaran agama masing-masing.
c.       Agama dalam pembangunan adalah agama yang menjadi anutan seseorang atau masyarakat jika diyakini dan dihayati secara mendalam mampu memberikan suatu tatanan nilai moral dalam sikap seperti kita harus jujur kepada orang lain.
Selanjutnya, nilai moral tersebut akan mamberikan garis-garis pedoman tingkah laku seseorang dalam bertidak sesuai dengan ajaran agamanya


C.    Perilaku Dalam Beragama
Agama dipeluk dan dihayati oleh manusia, praktek dan penghayatan agama tersebut diistilahkan sebagai keberagamaan (religiusitas). Keberagamaannya, manusia menemukan dimensi terdalam dirinya yang menyentuh emosi dan jiwa. Oleh karena itu, keberagamaan yang baik akan membawa tiap individu memiliki jiwa yang sehat dan membentuk kepribadian yang kokoh dan seimbang.
Konsep keberagamaan Glock & Stark mencoba melihat keberagamaan seseorang dengan memperhatikan semua dimensi. Untuk memahami keberagamaan umat Islam, diperlukan suatu konsep yang mampu memberikan penjelasan tentang beragam dimensi dalam Islam. Keberagamaan dalam Islam tidak hanya diwujudkan dalam bentuk ritual ibadah saja namun juga aktifitas lainnya. Sebagai sistem yang menyeluruh, Islam mendorong pemeluknya untuk beragama secara menyeluruh pula.
Dimensi-dimensi keberagamaan dalam Islam terdiri dari lima dimensi, yaitu: dimensi Akidah (iman atau ideology), dimensi ibadah (ritual), dimensi amal (pengamalan), dimensi ihsan (penghayatan), dan dimensi ilmu pengetahuan.
1.Dimensi Akidah (ideology)
            Dimensi ini mengungkap masalah keyakinan manusia terhadap rukun iman, kebenaran agama dan masalah-masalah gaib yang diajarkan agama. Seorang muslim yang religius memiliki ciri utama yang melekat berupa akidah yang kuat. Inti dimensi ini adalah tauhid yaitu peng-Esa-an Allah sebagai Yang Maha Esa.
2.Dimensi ibadah (ritual)
               Dimensi ini dapat diketahui dari sejauhmana kepatuhan seseorang dalam melaksanakan ibadah. Dimensi ini berkaitan dengan frekuensi, intensitas pelaksanaan ibadah.
3.Dimensi amal (pengamalan)
             Dimensi ini berkaitan dengan kegiatan seseorang dalam merealisasikan ajaran-ajaran agamanya dalam kehidupan yang diketahui dan perilaku yang positif dan yang konstruktif kepada orang lain yang dimotivasi oleh ajaran agam. Dimensi ini menyangkut hubungan antar manusia dan hubngan manusia dengan lingkungan alamnya. Dimensi ini dapat dimanifestasikan dengan berperilaku ramah dan baik terhadap orang lain, menolong, bertanggung jawab dan lain sebagainya.
4.Dimensi ihsan (penghayatan)
               Dimensi ini berkaitan dengan seberapa jauh seseorang merasa dekat dengan Allah SWT dalam kehidupannya. Dimensi ini mencakup pengalaman dan perasaan tentang kehadiran Allah SWT dalam kehidupan, ketenangan hidup, merasa khusyuk dalam ibadah, perasaan syukur atas karunia dan sebagainya.
5.Dimensi ilmu pengetahuan
               Dimensi ini berkaitan dengan pengetahuan dan pemahaman seseorang terhadap ajaran-ajaran agamanya mengenai dasar-dasar keyakinan, ritual-ritual, serta tradisi-tradisiya. Dan menjadikan AlQur’an merupakan pedoman hidup religius sebagai sumber ilmu pengetahuan.
            Dari pembahasan di atas, yang dimaksud dengan keberagamaan adalah perilaku seseorang yang didasarkan pada keyakinan, pengetahuan, ajaran-ajaran, aturan-aturan dan norma-norma yang berlaku dan sesuai dengan agama yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
                Sekolah adalah sebuah institusi yang awalnya digagas oleh masyarakat sebagai sarana untuk mendidik generasi muda dalam rangka mempersiapkan mereka untuk menghadapi tantangan hidup. Sekolah mempunyai tanggung jawab besar terhadap anak yang diamahkan orang tua kepadanya. Karena amanah yang diemban itu besar maka muncullah peraturan-peraturan yang orang tua harus terlibat di dalamnya, seperti: belajar dengan rajin, tertib sholat lima waktu, terbiasa melafadzkan doadoa, membaca Al-Qur’an, lulus dengan nilai akhir yang memuaskan.
                Dengan menciptakan suasana religius (keagamaan) di sekolah proses sosialisasi yang dilakukan peserta didik di sekolah akan dapat mewujudkan manusia yang menghayati dan mengamalkan agamanya, sehingga kelak apabila mereka terjun dalam masyarakat akan dapat mewujudkannya. Jadi sekolah adalah pintu menuju hidup di masyarakat. Menurut Abdul Latief, internalisasi nilai lebih dominan dilakukan oleh pendidik di sekolah daripada pendidik di rumah (orang tua).
      Dengan demikian sekolah dapat menjadi pusat pembinaan keagamaan bagi siswa dan menjadikan pendidikan moral di sekolah sebagai benteng tangguh dalam membekali siswa dengan nilai-nilai moral agama. Beberapa program kegiatan yang dapat dilakukan sekolah bagi pengembangan perilaku keberagamaan siswa antara lain:
1) Melaksanakan kebiasaan bersikap dan berperilaku sesuai dengan tuntutan yang dicontohkan Rasulullah SAW, seperti bersikap jujur dalam hal apapun, rendah hati, menyampaikan amanah dan sebagainya.
2) Melaksanakan sholat dhuha dan sholat dhuhur berjamaah untuk meningkatkan disiplin ibadah dan memperdalam rasa kebersamaan dan Pendidikan Berbasis Nilai Kemasyarakatan, persaudaraan antar sesame muslim.
3) Melaksanakan pesantren ramadhan dan pesantren kilat untuk memberikan tambahan pengetahuan dan pemahaman tentang nilai dan norma islam yang dilaksanakan pada bulan ramadhan dan liburan panjang. Program ini akan mencapai keberhasilan apabila disiapkan secara matang dengan mendayagunakan samua sumber daya yang tersedia di sekolah dan lingkungan sekitar.
  5) Melaksanakan peringatan hari-hari besar Islam untuk meningkatkan dakwah dan wawasan siswa tentang sejarah, nilai dan norma agama Islam yang berkembang di masa lalu, masa kini dan masa yang akan dating. Kegiatan ini sebaiknya dilakukan dengan mengadakan kerja sama dengan lembaga-lembaga Islam yang berada di sekitar sekolah, seperti masjid, pondok pesantren, pusat-pusat studi Islam dan semacamnya.


BAB II
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Motivasi adalah istilah yang lebih umum digunakan untuk mengantikan tema “motif-motif” yang berarti gerakan atau sesuatu yang bergerak sehingga kata motivasi ini erat hubungannya dengan gerak, yaitu gerakan yang dilakukan oleh manusia. Motif yang didororng keyakinan agama dinilai memiliki kekuatan yang mengagumkan dan sulit ditandingi oleh keyakinan nonagama, baik doktrin maupun 2 unsure yang bersifat prontan.
1.      Agama adalah sebagai sarana untuk mengatasi frustasi
2.      Fungsi agama dalam kehidupan
Konsep keberagamaan Glock & Stark mencoba melihat keberagamaan seseorang dengan memperhatikan semua dimensi. Untuk memahami keberagamaan umat Islam, diperlukan suatu konsep yang mampu memberikan penjelasan tentang beragam dimensi dalam Islam. Keberagamaan dalam Islam tidak hanya diwujudkan dalam bentuk ritual ibadah saja namun juga aktifitas lainnya. Sebagai sistem yang menyeluruh, Islam mendorong pemeluknya untuk beragama secara menyeluruh pula.
1. Dimensi Akidah (ideology)
2. Dimensi ibadah (ritual)
3. Dimensi amal (pengamalan)
      4. Dimensi ihsan (penghayatan)
5. Dimensi ilmu pengetahuan
B.     Kritik dan Saran
Menyadari dengan ketidak sempurnaan penulis dalam merangkai setiap kata dalam makalah ini menjadikan sebuah kritik dan saran dari pembaca sebagai bumbu pelengkap dalam menghidangkan kesempurnaan yang bisa di rasakan bersama.
DAFTAR PUSTAKA

Syamsul Arifin, Bambang, Sikologi Agama, Pustaka Setia, Bandung, 2015
Ihya’ Ulumuddin, Muham11232mad, Penjelasan Nadham ‘Aqidatul ‘Awam, Hai’ah Ash-Shofwah Al-Malikiyyah, Surabaya, 2018
Vergote, Antoon, Pengalaman Dan Motivasi Beragama, Kanisisus, Yogyakarta, 1994
Santri Ma’had Aly Situbondo IX, Syarah Aqoid Saeket, Tanwirul Afkar, Sukorejo, 2018
Jurnal psikologi agama

BAB I PENDAHULUAN A.     Latar Belakang Psikologi modern tampaknya memberi porsi khusus bagi perilaku keagamaan, walaupun pendekatan...